Free Monkey ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
ASNiC Novel

Mau duit?

Get cash from your website. Sign up as affiliate.

Jumat, 09 Desember 2016

Derap Kaki Kuda

keteplak keteplok
Derap kaki kuda
Membawa sepasang anak muda
Seperti yang suda-suda

hieeeek!
Si Kuda meringkik
Muncul masalah-masalah yang pelik
Yang diantara mereka sulit ditilik

Gedebug!
Si kuda terjatuh!
Sang pria berteriak dengan suara gaduh
Tangisan sang perempuan memecah senja yang teduh

Krieeet....
Bunyi si kuda mencoba bangkit
Rasa cinta yang tadi menghilang karena sakit
Perlahan-lahan mulai kembali terakit

Keteplak keteplok!
Si kuda maju lagi dengan mantap
Dengan rasa cinta mereka yang tetap
Karena hati mereka sudah menetap

Time is Waktu

Siapa yang pernah mendengar perumpamaan "time is money"? Angkat tangan kalian tinggi-tinggi. Yak. Bau ketek. Artinya semua pernah. Baik.

Sebagai manusia yang hidup di ibukota, penulis merasakan sendiri betapa berharganya setiap menit yang penulis miliki. Betapa berharganya satu menit bagi penulis untuk memejamkan mata sejenak setelah begadang semalaman mengerjakan tugas sekolah. Betapa berharganya satu menit bagi seorang anak untuk mendengar suara ayahnya lewat telepon penjara karena ayahnya merampok seorang ibu-ibu di pasar untuk membelikan anaknya seragam sekolah. Betapa berharganya satu menit bagi seorang dokter untuk menghidupkan pasiennya yang terkena aneurisme otak parah yang hendak meledak pembuluh darahnya. Betapa berharganya satu menit bagi sepasang kekasih yang mencuri-curi waktu di tengah kesibukannya masing-masing, sembunyi-sembunyi dari orang tua mereka karena tidak direstui hubungannya, untuk melepas rindu.

Penulis pernah membaca suatu novel karya Sophie Kinsella, yang menceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Samantha yang bekerja di suatu perusahaan yang mewajibkan karyawannya untuk mencatat apa saja yang sudah berhasil diselesaikan karyawan itu setiap 6 menit. Setiap 6 menit, upahnya adalah $20. Kalikan 10. $200. Dalam satu jam. Pada konteks ini, time is money. Tidak ada karyawan perusahaan itu yang tidak melakukan apa-apa. Karena jika berdiam diri 1 jam saja, sudah $200 yang seharusnya masuk kantor mereka, melayang pergi. Mereka menjadi buta akan makna waktu yang sebenarnya, yang tidak hanya diukur oleh banyaknya dollar yang akan mereka terima.

Maka saran penulis, jangan pernah menyamakan time dengan money. Waktu adalah sesuatu yang sifatnya kekal, mutlak, irreversable. Butir-butir yang sudah bergulir tidak akan pernah bisa kembali. Setiap tahun, bulan, hari, jam, menit, dan detiknya berharga. Yang membuatnya berharga adalah kisah yang terkandung dalam tiap butirnya. Fakta bahwa semua kejadian yang sudah direnggut waktu tidak bisa diulang kembali membuat waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Apalah arti uang jika dibandingkan dengan waktu. Jika kau kehilangan uang, kau tidak akan keberatan mencari uang yang 'baru', asal kau tahu caranya dan bersedia melakukan pengorbanannya. Mereka mencetak uang setiap hari di bank. Uang bisa diwariskan, bisa disumbangkan, bisa dicari lagi ketika hilang. Lantas waktu? Apapun yang kau korbankan, cara apapun yang kau gunakan, kau tidak akan pernah bisa 'menambah' waktu yang kau punya. Ketika bulir waktu sudah bergulir, tidak bisa 'dicari' lagi. Tidak ada pengganti waktu.
Waktu
adalah
waktu.

Data Buku Layar Terkembang




Judul : Layar Terkembang


Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana


Penerbit : PT Balai Pustaka (Persero)


Tahun terbit : 1936


Cetakan ke : 24


Harga Buku : Rp 47.000


Tebal buku : 139 halaman


Nomor ISBN: 978-979-407-065-9


Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana (STA) lahir di Natal, Sumatera Utara pada tanggal 11 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun.
Saat kecil STA bukan seorang kutu buku melainkan seorang yang suka bepergian dan aktif dalam kegiatan politik. Ia merupakan salah seorang pendiri Universitas Indonesia.
Setelah lulus dari sekolah dasar , STA sering pergi ke Bandung dan menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera. Pengalaman ini yang membantunya untuk menuliskan perjalanan Yusuf, salah satu karakter di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal yaitu Layar Terkembang.

Ia yang pertama kali menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia, yang mana masih dipakai sampai sekarang. Serta Kamus Istilah yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang.

My Wife's Having an Affair this Week (2016)

Judul: (My Wife's Having an Affair this Week)

Lead cast: 
Lee Sun Kyun - Do Hyun Woo (Toycrane)
Song Ji Hyo - Jung Soo Yeon
Kim Hee Won - Choi Yoon Ki
Ye Ji Won - Eun Ah Ra (Tuna Mayo)
Lee Sang Yeob - Ahn Joon Young (Ahn PD)
BoA - Kwon Bo Young

Plot
Do Hyun Woo (Lee Sun Kyun) bekerja sebagai seorang PD di sebuah perusahaan. Ia sangat yakin akan keluarganya, bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis, bahagia, dan saling mendukung satu sama lain. Sampai suatu saat, ia melihat sebuah pesan masuk di handphone sang istri, Jung Soo Yeon (Song Ji Hyo) dari seseorang yang bernama Michael, yang berisi bahwa Michael telah membuat janji di Hotel Hiltz, hari Sabtu jam 3, dan Michael sangat merindukannya. Hyun Woo pun yang sampai saat itu masih percaya bahwa istrinya adalah seorang istri yang setia, tidak percaya akan hal itu. Namun, semakin ia tidak percaya, semakin pula ia terus memikirkannya. Teman-teman sekantor Hyun Woo pun telah melihat istrinya bersama dengan orang lain, namun pada saat itu tidak mengetahui bahwa ada kemungkinan sang istri selingkuh. Program Hyun Woo pun terancam dihapus, sehingga ia harus memikirkan program baru. Teman-teman setimnya pun mengusulkan untuk membuat program mengenai perselingkuhan, dan karena Hyun Woo menuliskan bahwa istrinya akan bertemu dengan Michael di internet secara umum sebagai Toycrane, teman-temannya pun menjadikannya sebagai contoh, yang membuat dia harus menceritakan kepada Joon Young (Lee Sang Yeob) yang akhirnya pun menyebar ke Bo Young (BoA) dan Yoon Ki (Kim Hee Won). Pada akhirnya pun, Hyun Woo mengetahui hubungan antara Soo Yeon dan Michael yang sudah berlangsung hingga 6 bulan.
Hyun Woo pun meminta untuk cerai, namun oleh ibunya tidak diperbolehkan. Di sisi lain, Joon Young pun juga terlibat masalah mengenai istrinya yang kabur 3 hari setelah perkawinan mereka, dan Bo Young yang menceraikan suaminya. Choi Yoon Ki (Kim Hee Won) pun, dicurigai oleh istrinya bahwa ia selingkuh, yang merupakan fakta, namun Ah Ra (Ye Ji Won) masih mencari-cari bukti tegas, dan ia mengatakan pada Hyun Woo, apabila Yoon Ki ketahuan berselingkuh, maka Ah Ra akan menyiksanya. Hari-hari pun berlanjut dengan Toycrane yang meminta saran dan menceritakan kejadian baru yang terjadi di kehidupan keluarganya, dan banyak orang mengomentarinya. Namun dari sekian banyak orang yang memberinya saran, saran Tuna Mayo lah yang paling bijaksana, salah satunya adalah memberi tau Hyun Woo agar berbicara dengan baik bersama istrinya. Namun, setiap kali Hyun Woo mengajak Soo Yeon berbicara, selalu berujung pada pertengkaran, hingga mereka memutuskan untuk hidup terpisah untuk sementara, dan hal ini pun sangat berakibat pada anak mereka, Do Joon Soo, Di samping hubungan Hyun Woo dan Soo Yeon yang semakin jauh, Joon Young pun semakin dekat dengan Bo Young berkat kepercayadirian Joon Young mendekatinya. Namun, Bo Young selalu menolaknya.
Akankah Joon Young berhasil merebut hati Bo Young? Atau Bo Young akan terus menolaknya? Apa yang akan terjadi pada hubungan mereka pada akhirnya? Di sisi lain, bagaimana hubungan Hyun Woo dengan Soo Yeon? Apakah mereka memutuskan untuk bercerai dan menemukan pasangan masing-masing? Ataukah niat untuk melakukan pembicaraan dan kerja keras Hyun Woo terbayar dengan hubungan mereka kembali harmonis seperti dulu, dan melupakan masa lalu mereka? Bagaimana pula dengan Yoon Ki dan istrinya? Apakah istrinya akan menemukan bukti tegas bahwa Yoon Ki berselingkuh dengan orang lain, dan ia memutuskan untuk menyiksanya? Ataukah Yoon Ki akan bertobat dan berjanj untuk tidak berselingkuh lagi sebelum ketahuan oleh Ah Ra? Temukan semua jawabannya dalam drama My Wife's Having an Affair this Week (12 episode, tamat) yang juga memunculkan beberapa cameo contohnya cameo Eun Ji Won. 

Rabu, 07 Desember 2016

Pengalaman Ikut Lomba Nasional Part 3

Aku pun tidak bisa berhenti tersenyum dan Bu Erna yang saat itu sedang tidak enak badan, langsung merasa sehat saat tahu kami menang. Berita kemenangan kami pun langsung menyebar cepat, guru-guru dan teman-teman memberi selamat kepada kami. Kami juga langsung menelpon keluarga masing-masing.
Akhirnya dalam hidupku, aku bisa memenangkan lomba nasional, mendapatkan medali emas dan membanggakan banyak orang. Ini merupakan pencapaian terbesar dalam hidupku. Tapi keberhasilan ini tidak akan dicapai bila tidak ada dukungan dari semua pihak terutama guru jurnalistik kami yang telah membantu kami dengan sekuat tenaga.

Setelah itu lomba resmi ditutup dan keesokan harinya kami pergi ke Keraton Surakarta, Lokananta, dan berkeliling Solo. 5 hari di sana sangat menyenangkan dan aku secara pribadi tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
Sekitar sebulan kemudian, sekolah mendapat panggilan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kami sebagai peraih medali akan diberi apresiasi. Oleh karena itu kami pergi ke Dinas Pendidikan dan bertemu dengan Kepala Dinas SMP dan berbincang-bincang dengan beliau. Lalu beliau juga menyampaikan sesuatu yang tidak kusangka; jadi Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberikan apresiasi kepada kami berupa beasiswa jalur prestasi. Kami bebas memilih untuk bersekolah di SMA Negeri manapun di Jakarta, istilah mudahnya, kami langsung diterima di seluruh SMA Negeri di Jakarta.
Saat mendengar hal tersebut, aku sempat tidak percaya karena walaupun aku tidak berminat untuk bersekolah di sekolah negeri, tapi bagiku itu adalah sebuah kehormatan besar.
Selain itu sebenarnya nama kami akan disebut saat apel di Dinas, tapi karena keterbatasan waktu, rencana itu batal. Meskipun begitu, kami tetap berterima kasih atas perhatian pemerintah terhadap pencapaian kami.

Aku, Gitta, dan Hanna tidak mengikuti retret wajib kelas 9 karena lomba jurnalistik akhirnya diberi hadiah istimewa, yaitu retret dengan Suster Windhi, kepala sekolah SMP.

Retret dilaksanakan di Biara Santa Ursula sehingga aku cukup tidak sabar karena jarang ada murid yang diijinkan untuk masuk apalagi menginap di biara. Di sana kami mengenal banyak Suster dan berbagi cerita dengan mereka, kami juga tetap melakukan retret dengan cara refleksi, permainan dan lain-lain sehingga retret kami ini, walaupun hanya bertiga namun tetap memiliki arti yang sama dengan retret kelas.

Pengalaman Ikut Lomba Nasional Part 2

Setelah presentasi, kami diberi pembekalan untuk tugas selanjutnya. Pembekalan diberikan oleh para jurnalis yang profesional, antara lain bekerja di surat kabar yang terkenal dan lain-lain.
Namun saat pembekalan, kesabaran kami kembali diuji karena salah satu juri seperti 'menyindir' kelompok kami karena kesalahan yang kami buat saat presentasi. Kami pun berusaha berlapang dada dan mengakui kesalahan.
Meskipun begitu memang kami menjadi minoritas di sana sebab hanya ada 2 sekolah yang merupakan sekolah Katolik yaitu kami dan dari provinsi Papua, tapi kami tidak patah semangat karena perbedaan itu dan terus berjuang. Hari ketiga kami terjun langsung ke lapangan untuk meliput, tim kami mendapat tugas meliput Kampung Batik Laweyan dan Museum Pers.

Tugas ini juga membuatku menjadi tahu bahwa minat para siswa terhadap dunia jurnalistik sangat besar dan aku senang melihat peserta lain juga antusias. Harus aku akui, tugas ini membuat kami benar-benar terlihat seperti seorang jurnalis sejati.

Malam sepulang dari lapangan, kami langsung membuat buletin baru berdasarkan informasi yang sudah kami dapatkan dari Kampung Batik Laweyan dan Museum Pers. Namun malam itu kami hanya sempat membuat kerangka atau daftar isi dari buletin kami dan menyicil sedikit untuk membuat berita yang akan disajikan. Setelah itu ruangan lomba disterilkan dan semua siswa harus keluar, lomba akan dilanjutkan besok.
Kami pun sempat berkonsultasi dengan guru jurnalistik kami untuk strategi buletin kami kali ini dan setelah yakin kami pun beristirahat.

Tanggal 8 Oktober 2015 merupakan hari penentu, sebab buletin yang kami buat kali ini akan menjadi bahan penilaian terakhir untuk mencari buletin yang terbaik. Kami bekerja sangat keras saat itu dan jujur saja, aku memang akan tertekan karena di satu sisi aku sangat ingin menang tapi melihat usaha kelompok lain, rasanya buletin mereka sama sekali tidak boleh diremehkan.
Lomba selesai sekitar pukul 11 dan kami keluar ruangan lomba dengan lega. Intinya kami sudah melakukan yang terbaik dan semampu kami. Malamnya kami pun dikumpulkan aula karena pemenang akan segera diumumkan.
Akan ada tim yang mendapat medali perunggu, tim yang mendapat medali perak, dan 3 tim yang mendapat medali emas. Kami saat itu hanya berharap mendapat medali perak, namun sampai pemenang medali perak diumumkan, nama tim kami masih belum disebut. Aku pun mulai ge-er, “Jangan-jangan kami mendapatkan medali emas,” begitu pikirku waktu itu.

“Aku akan mengumumkan pemenang medali emas yang pertama, yaitu dari tim PORTALITA, SMP SANTA URSULA JAKARTA.” ujar panitia. Aku sontak berteriak. aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Rasanya semua perjuangan kami tidak sia-sia. Kami pun maju ke depan untuk menerima piala dan medali.